TIMAH(II) OKSIDA: PERAN UTAMANYA SEBAGAI PREKURSOR SENYAWA TIMAH TRIVALEN DAN GARAM

TIMAH(II) OKSIDA (stanni oksida) ialah suatu senyawa dengan rumus SnO. Oksida timah ini terdiri dari timah dan oksigen di mana timah memiliki keadaan oksidasi +2. Ada dua bentuk, bentuk stabil biru-hitam dan bentuk metastabil merah.

Nama IUPAC oksida timah ini adalah Timah(II) oksida; nama lainnya Stannit oksida, Timah monoksida. Adapun sifat-sifatnya adalah:

  • Rumus molekul: SnO
  • Berat molekul: 134,709 gr/mol
  • Penampilan: Serbuk hitam atau merah (anhidrat); putih (hidrat)
  • Densitas: 6,45 gr/cm3
  • Titik lebur: 1080 °C
  • Kelarutan dalam air: Tidak larut
  • Struktur Kristal: Tetragonal
  • Entalpi pembentukan standar ΔfHo298: −285 kJ·mol−1
  • Entropi molar standar So298: 56 J·mol−1·K−1
  • MSDS: ICSC 0956
  • Indeks Uni Eropa: Tidak terdaftar
  • Titik nyala: Tidak mudah terbakar

 

PEMBUATAN DAN REAKSI

SnP biru-hitam dapat dibuat dengan memanaskan timah(II) oksida hidrat, SnO.xH2O (x<1) diendapkan saat garam timah(II) direaksikan dengan alkali hidroksida seperti NaOH. Metastabil, SnO merah dapat dibuat dengan pemanasan perlahan-lahan endapan yang dihasilkan oleh aksi ammonia cair terhadap garam timah(II). SnO mungkin dibuat sebagai zat murni di laboratorium, melalui pemanasan terkontrol timah(II) oksalat (stanni oksalat) tanpa hadirnya udara.

Timah(II) oksida dibakar di udara dengan  api hijau redup untuk membentuk SnO2.

2 SnO + O2 → 2 SnO2

Bila dipanaskan dalam udara inert awalnya terjadinya disproporsional yang memberikan logam Sn dan Sn3O4 yang bereaksi lebih lanjut memberikan SnO2 dan logam Sn.

4SnO → Sn3O4 + Sn

Sn3O4 → 2SnO2 + Sn

SnO adalah amfoter, larut dalam asam kuat memberikan garam timah(II) dan dalam basa kuat memberikan stannit yang mengandung Sn(OH)3. SnO juga larut dalam larutan asam kuat memberikan kompleks ion Sn(OH2)32+ dan Sn(OH)(OH2)2+, dan dalam larutan kurang asam  memberikan Sn3(OH)42+. Perhatikan bahwa stannit anhidrat, misalnya  K2Sn2O3, K2SnO2 juga dikenal. SnO adalah zat pereduksi dan ini terlihat pada perannya dalam produksi yang disebut juga “copper ruby glass“—kaca merah delima tembaga.

STRUKTUR

α-SnO (hitam) mengadopsi struktur lapisanPbO tetragonal yang mengandung empat koordinat atom timah piramida empat persegi. Bentuk ini dijumpai di alam sebagai mineral romarchite yang langka. Asimetrinya biasanya sederhana dibandingkan pasangan sunyi aktif secara sterik; namun, perhitungan kerapatan elektron menunjukkan bahwa asimetri ini disebabkan oleh interaksi anti-ikatan dari orbital Sn(5s) dan O(2p). Non-stoikiometri telah diamati pada SnO. Celah pita elektronik telah diukur antara 2,5 eV dan 3 eV.

KEGUNAAN

Penggunaan yang menonjol dari stannit oksida ialah sebagai prekursor dalam pembuatan senyawa-senyawa timah trivalen atau garam. Stannit oksida juga dapat digunakan sebagai zat pereduksi dan dalam pembuatan kaca merah delima—Lihat “Pewarnaan Kaca Merah—Studi Kolorimetik dan Struktur” oleh Torun Bring. Penerbit Vaxjo University. Red Glass ColorationA Colorimetric and Structural Study. Stannit oksida memiliki sedikit penggunaan sebagai katalis esterifikasi.

Serium(III) oksida dalam bentuk keramik, bersama dengan Timah(II) oksida (SnO) digunakan untuk iluminasi bersama sinar UV.

SnC2O4 → SnO + CO2 + CO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s