ANTIOKSIDAN TOKOTRIENOL: EFEKNYA TERHADAP KESEHATAN

Tokotrienol merupakan anggota keluarga vitamin E. Zat gizi ensensial bagi tubuh, vitamin E dibentuk dari empat tokoferol (alfa, beta, gamma, delta) dan empat tokotrienol (alfa, beta, gamma, delta). Secara kimia,  vitamin E merupakan suatu antioksidan. Satu model untuk fungsi vitamin E di dalam tubuh ialah bahwa vitamin E melindungi membrane sel, bagian aktif dari enzim, dan DNA dari bahaya radikal bebas.

Tokotrienol merupakan senyawa alami yang ditemukan dalam minyak-minyak nabati pilihan, benih gandum, jawawud, dan jenis-jenis kacang dan padi-padian tertentu. Varian vitamin E ini hanya terjadi pada taraf sangat rendah di alam.

Sementara mayoritas penelitian tentang vitamin E berfokus pada alfa-tokoferol, kajian mengenai tokotrienol diperkirakan kurang dari 1% dari semua penelitian tentang vitamin E.

Gejala-gejala yang diakibatkan oleh defisiensi alfa-tokoferol dapat dikurangi oleh tokotrienol. Dengan demikian, tokotrienol dapat ditinjau sebagai anggota dari keluarga vitamin E tidak hanya secara structural tetapi juga secara fungsional. Sedikit perbedaan antara tokotrienol dan tokoferol yang terletak pada rantai samping tak jenuh yang memiliki tiga ikatan rangkap pada ekor isoprenoid farnesilnya. Semua isomernya mempunyai beberapa tingkat aktivitas antioksidan karena menyumbangkan atom hydrogen dari gugus hidroksilnya pada cincin kromanol yang mengurangi radikal-radikal bebas di dalam tubuh.

Tokotrienol dinamakan melalui analogi terhadap tokoferol  (dari kata-kata Yunani yang berarti menjadi hamil (lihat tokoferol); tetapi dengan kata ini berobah termasuk perbedaan zat kimia bahwa tokotrienol adalah triena, berarti bahwa mereka berperan dengan struktur identik dengan tokoferol kecuali untuk penambahan tiga ikatan rangkap pada rantai samping mereka.

Tokotrienol diekstrak dari sumber-sumber alami merupakan d-tokotrienol. Tokotrienol hanya mempunyai satu pusat kiral tunggal yang terdapat pada karbon cincin kromanol 2′, pada titik di mana ekor isoprenoidnya bergabung dengan cincinnya; dua pusat yang berhubungan lainnya pada ekor fitil dari tokoferol yang berhubungan, tidak terdapat karena ketakjenuhan tokotrienol pada bagian tersebut. Dalam teori, stereoisomer tokotrienol mungkin bahkan terdapat dalam bentuk d-tokotrienol alami, atau sebagai isomeric non-alami ‘l-tokotrienol’ yang mempunyai konfigurasi 2S (yang lebih baik dari 2R) pada pusat kiral tunggal  molekul. Bagaimanapun, secara praktek, tokotrienol diekstrak dari sumber-sumber alami, dan bentuk-bentuk sintetik l dan d,l tidak dipasarkan sebagai suplemen.

Banyak penelitian mengakui manfaat kesehatan tokotrienol untuk manusia telah dibuat. Tingkat keracunan untuk manusia sekarang tidak diketahui.  Tingkat efek-merugikan-yang diamati tidak ada untuk tikus yang diperkirakan 120–130 mg/kg berat badan/hari. Selama  2004, Dewan Pangan dan Nutrisi Institut Ilmu Kedokteran Akademi Sains Nasional Amerika Serikat tidak mendefinisikan keuntungan kesehatan apa pun atau risiko kesehatan apa pun, yaitu perkiraan keperluan rata-rata, tunjangan makanan yang direkomendasikan, asupan yang memadai dan tingkat asupan tertinggi yang ditoleransi (UL) didefinisikan untuk alfa-tokoferol (kecuali tingkat tertinggi (UL) untuk bayi) tetapi tidak untuk tokotrienol.

Tokotrienol dan Cedera Akibat Strok

Dalam jurnal  peer-reviewed Stroke (Oktober 2005), suplementasi oral dari kompleks tokotrienol sawit spectrum penuh pada tikus hipersensitif secara mendadak menimbulkan tingkat tokotrienol yang meningkat pada otak. Tikus, yang disuplementasi dengan tokotrienol menunjukkan lebih terlindungi terhadap cedera akibat-strok dibandingkan dengan kontrol (kelompok yang tidak disuplementasi). Kajian ini menunjukkan bahwa suplementasi oral dari kompleks toktrienol sawit berfungsi pada checkpoint molekul kunci (c-Src dan 12-Lipoksigenase) untuk melindungi terhadap strok secara in vivo. Efek perlindungan dari tokotrienol adalah bebas dari aktivitas antioksidannya karena tokoferol hanya efektif pada konsentrat yang lebih tinggi.

Pada tahun  2005, sebuah studi bersama yang dilakukan pada universitas Wayne State dan Pusat Medis Universitas Ohio State menunjukkan bahwa tokotrienol dapat disampaikan ke organ-organ dengan efisien dan oleh karena itu dapat menawarkan manfaat bagi kesehatan yang ditunjukkan oleh studi secara in vitro dan in vivo. “Hasil kami menunjukkan bahwa tokotrienol dikirim dengan efisien ke aliran darah terlepas dari kenyataan bahwa protein transfer mempunyai afinitas yang lebih rendah untuk tokotrienol dibandingkan untuk tokoferol,” kata  Chandan Sen dari  Ohio State University dan penulis senior dari kajian itu.

Peneliti merekrut wanita dengan tingkat kolesterol normal (rata-rata usia 23,5 tahun) dan memberikan mereka stroberi lembut kaya-lemak yang mengandung 400 mg vitamin E dengan g 77 mg alfa-tokotrienol, 96 mg delta-tokotrienol, dan 3 mg gamma-tokotrienol, ditambah  tokoferol. Karena vitamin E adalah vitamin larut-lemak, maka peneliti itu memilih mengirim mikronutrien ini dalam makanan yang berisi-lemak untuk memperbaiki penyerapan. Pengukuran darah periode post-prandial menunjukkan bahwa tingkat alfa-tokotrienol maksimal yang dirata-ratakan hamper 3 mikromol dalam plasma darah, 1,7 mikromol dalam kolesterol-LDL (kolesterol jahat), dan 0,5 mikromol dalam kolesterol-HDL (kolesterol-baik). “Kerja ini menampilkan fakta pertama yang menunjukkan post-absorptive fate dari isomer-isomer tokotrienol dan kaitannya dengan sub-fraksi lipoprotein pada manusia,” tulis penulis Pramod Khosla dari  Wayne State University.

Konsentrasi-konsentrasi tersebut, kata peneliti itu, cukup untuk mendukung fungsi-fungsi neuroprotektif dari tokotrienol yang dilaporkan. “Kami telah menentukan bahwa bila diberikan secara oral, tokotrienol dapat menaikkan konsentrasi yang dibutuhkan untuk bekerja tersebut… fungsi-fungsi perlindungan,” kata Sen. “Ini merupakan ramuan makanan umum di Asia, sehingga ini dapat merupakan bagian yang aman dari diet harian dalam makanan yang disediakan atau sebagai suplemen di Amerika Serikat.” Dapatkah ia digunakan secara terapi untuk mencegah strok?  “Hasil-hasil dari studi pada hewan ada harapan yang optimis, tetapi ini masih terlalu dini untuk mengatakan untuk manusia,” dia menambahkan.

Tokotrienol dan Kanker Pankreas

Kanker pancreas merupakan  kanker yang mematikan keempat terbesar di Amerika Serikat, dengan laju kelangsungan hidup paling buruk 5 tahun dengan kurang dari 5%. Deteksi dan skrining awal untuk kanker pancreas baru-baru ini menetapkan terbatas pada pasien-pasien berisiko-tinggi, meskipun hereditas (factor keluarga) diperkirakan hanya 10% dari pasien-pasien dengan kanker pancreas.

Tokotrienol merupakan antioksidan yang lebih efektif dibandingkan tokoferol karena rantai-sampingnya yang tidak jenuh memudahkan menetrasi yang lebih baik ke dalam lapisan lapisan lemak jenuh dari otak dan hati. Tokotrienol dapat menurunkan pembentukan tumor, Kerusakan DNA dan kerusakan sel. Pada sebuah studi tahun 1993 di mana tikus yang diinduksi dengan zat yang berpotensi kanker hati, ilmuwan menemukan tidak ada kerusakan sel hati pada kelompok yang diberi makan dengan tokotrienol sawit.

Pada 2009, ilmuwan pada Departemen Nutrisi dan Ilmu Pengetahuan Makanan, Universitas Wanita Texas mengevaluasi dampak dari d-delta-tokotrienol, suatu isomer vitamin E yang potensial, pada sel-sel karsinoma pancreas  MIA PaCa-2 dan sel-sel adenokarsinoma duktal pancreas  BxPC-3 pada manusia. Mereka menyimpulkan penekanan aktivitas jalur mevalonat, apakah itu melalui modulator HMG KoA reduktase (statin, tokotrienol, dan farnesol), farnesil transferase (inhibitor farnesil transferase), dan/atau aktivitas mevalonat pirofosfat dekarboksilase (fenilasetat), mempunyai potensi dalam kemoterapi kanker pancreas. Juga, sebuah studi mengeskalasi-dosis fase-I mengevaluasi pengaruh tokotrienol murni isomer delta yang diekstrak dari minyak kelapa sawit terhadap individu  dengan kanker pancreas baru-baru ini masih berlangsung pada Pusat Kanker Moffitt, dan pertama kali tokotrienol dievaluasi secara klinis terhadap kanker pada manusia.

Tokotrienol dan Kanker Payudara

Pada tahun 1990-an, beberapa studi memperlihatkan tokotrienol merupakan vitamin E yang dapat menanggapi untuk menghambat pertumbuhan sel-sel kanker payudara pada manusia secara in vitro, dianggap  mekanisme estrogen bebas. Tokotrienol bekerja secara sintetik dengan tamoxifen, suatu obat kanker payudara yang digunakan secara umum, dalam membunuh sel-sel kanker.

Tokotrienol juga dapat mempengaruhi homeostasis sel, kemungkinan secara bebas dari aktivitas antioksidan mereka. Efek anti-kanker dari α- dan γ-tokotrienol telah dilaporkan, meskipun δ-tokotrienol diverifikasi merupakan tokotrienol paling efektif dalam menginduksi apoptosis (kematian sel) dalam sel-sel-sel kanker payudara manusia yang merespon-estrogen dan yang non-respon estrogen. Berdasarkan pada hasil tersebut pada sel-sel dalam kultur, penyelidik telah menduga bahwa campuran dari α- dan γ-tokotrienol dapat mengurangi risiko kanker payudara.

Kajian lebih lanjut mengenai tokotrienol dan kanker payudara menunjukkan bahwa gamma-toktrienol sasarannya sel-sel kanker dengan menghambat Id1, suatu protein kunci yang memunculkan-kanker. Gamma-tokotrienol menunjukkan untuk mencetuskan apoptosis sel dan sebagai anti-perkembangan sel-sel kanker yang baik. Mekanisme ini juga diamati dalam kajian memisahkan kanker prostat dan jalur sel melanoma.

Pada 2009, sebuah studi oleh para saintis pada Kolese Farmasi, Universitas Louisiana di Monroe memperlihatkan statin dan tokotrienol memberikan manfaat kesehatan yang signifikan pada pengobatan kanker payudara pada wanita, sambil menghindari miotoksisitas terkait dengan monoterapi statin dosis tinggi.

Tokotrienol dan Kanker Prostat

Penyelidikan efek anti-proliferatif tokotrienol pada sel-sel kanker prostat PC3 dan LNCaP menunjukkan bahwa transformasi vitamin E untuk CEHC merupakan mekanisme detoksifikasi paling banyak, berguna untuk memelihara sifat-sifat malignan dari sel-sel kanker prostat. Bagaimanapun, penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa γ-tokotrienol adalah paling potensial dalam menekan proliferasi sel kanker prostat, dan efek anti-proliferatif dari γ-tokotrienol itu bertindak melalui banyak jalur-pensinyalan (NF-B, EGF-R dan protein-protein keluarga Id). Sebagai tambahan, kajian yang sama menunjukkan efek anti-invasi dan kemosensitisasi dari γ-tokotrienol terhadap sel-sel PCa.

Tokotrienol dan Kanker Kulit

Dalam satu kajian tahun 2009 pada Fakultas Ilmu Kedokteran Li Ka Shing, Universitas Hong Kong, para saintis menemukan pengurangan sel-sel kanker kulit saat diobati dengan gamma-tokotrienol dengan obat-obatan kemoterapi. Untuk pertama kali, peneliti mencatat efek anti-invasi dan kemosensitisasi gamma-tokotrienol terhadap sel-sel melanoma malignan manusia.

Tokotrienol dan Pengurangan Kolesterol

Tubuh manusia membentuk kolesterol dari hati, memproduksi sekitar 1 gr kolesterol setiap hari atau 80% dari total kolesterol tubuh yang dibutuhkan. Sisa 20% berasal dari apa yang kita makan. Kolesterol berlebih adalah sebuah risiko bagi kesehatan karena penyimpanan lemak bertahap akan menyumbat arteri. Ini akan mengakibatkan aliran darah ke otak, jantung, ginjal dan bagian-bagian lain dari tubuh menjadi kurang efisien.

Kolesterol, dianggap dibutuhkan secara metabolik, adalah tidak esensial di dalam makanan. Tokotrienol dapat mengurangi kapasitas hati untuk menghasilkan kolesterol. Ini dilakukan dengan menekan HMG KoA reductase, enzim dalam  hati yang merespon bagi sintesis kolesterol.

Pada 1993, para saintis Amerika memimpin sebuah studi terkontrol dengan plasebo “double-blind” dari 50 sukarelawan pada Yayasan Jantung Kenneth Jordan dan Pusat Medis Elmhurst. Hasil-hasil mereka menunjukkan bahwa tokotrienol sawit dapat dengan mudah dibiakkan pada arteri. Tujuh pasien dengan kolesterol tinggi dengan pengosongan arteri yang dialami kembali menghalangi urat nadi dari arteri karotit setelah mengonsumsi tokotrienol sawit, sambil memperburuk kondisi. Ini dibandingkan dengan kelompok kontrol, di mana tak satu pun diperbaiki dan 10 orang semakin parah. Tokotrienol, khususnya δ- dan γ-tokotrienol, memperlihatkan merupakan  zat gizi yang efektif dalam mengobati kolesterol tinggi. Khususnya, γ-tokotrienol tampaknya bertindak pada enzim spesifik yang disebut 3-hidroksi-3-metilglutaril-koenzim  dan  menekan produksi enzim ini, menyebabkan kolesterol tidak diproduksi oleh sel-sel hati. Sementara studi tahun 1995 pada ayam menunjukkan bahwa adanya alfa-tokoferol makanan dapat berinterferensi dengan kemampuan tokotrienol untuk menurunkan kolesterol meskipun semua studi kemudian menemukan interferensi tersebut terlihat hanya alfa-tokotrienol. Pada aterosklerosis, pembentukan benda lemak seperti halnya kolesterol. Karena tokotrienol menurunkan peroksidasi lipida, yang pada gilirannya mengurangi penebalan intimal dan mengawetkan lamina elastik internal, menyimpulkan bahwa aktivitas antioksidan tokotrienol dapat mengurangi aterosklerosis eksperimen yang menyebabkan  dinding urat nadi (arteri) menebal. Aspek-aspek mekanistik lebih rumit, dalam upaya untuk memahami dengan lebih baik hubungan antara struktur dan aktivitas telah diselidiki. Tokotrienol sangat mirip tetapi juga begitu banyak perbedaan dari tokoferol. Penyelidikan mengenai FeAOX-6, yang menggabungkan fitur-fitur struktur antioksidan dari tokoferol dan karotenoid ke dalam sebuah molekul tunggal, terhadap fungsi-fungsi makrofagus termasuk dalam pembentukan sel busa yang memperlihatkan bahwa baik FeAOX-6 atau alfa-tokotrienol menginduksi reduksi kolesterol bergantung-dosis kuat dan mengurangi Penumpukan (akumulasi) kolesterol dalam makrofagus manusia. Tingkat reduksinya dijumpai dengan alfa-tokotrienol yang lebih besar dari yang diinduksi oleh FeAOX-6 dan tidak berkorelasi dengan kapasitas antioksidan mereka masing-masing.

Tokotrienol dan Diabetes

Menurut WHO, 170 juta orang terserang diabetes pada tahun 2002, dan jumlah ini mungkin bertambah hingga 366 juta pada 2030. Diabetes mellitus (DM) telah diakui sebagai faktor risiko yang dijual bebas untuk perkembangan penyakit kardiovaskuler apa pun. Komplikasi kardiovaskuler meliputi strok dan serangan jantung, penyebab meningkatnya kematian pada pasien diabetik. Dengan gelisah, literatur statistik menunjukkan bahwa aterosklerosis diperkirakan sekitar 8-10% dari seluruh kematian penderita diabetes.

Studi baru-baru ini menunjukkan bahwa asupan vitamin E yang signifikan mengurangi risiko diabetes tipe 2. Risiko relatif (RR) dari diabetes tipe 2 antara asupan kuartiles ekstrim adalah 0,69 (95% CI 0,51-0,94, P untuk kecenderungan = 0,003). Asupan alpha-tokoferol, gamma-tokoferol, delta-tokoferol, dan beta-tokotrienol sebaliknya terkait dengan risiko diabetes tipe 2. Sementara korelasi tidak mengimplikasikan penyebab, data tersebut menunjukkan kemungkinan bahwa perkembangan diabetes tipe 2 dapat drobah melalui asupan antioksidan dalam makanannya.

Pada tahun 2009, pengujian pada hewan dilakukan di India dan Malaysia mengungkapkan tikotrienol memperbaiki glukosa darah, dislipidemia dan ketegangan oksidatif tikus diabetik. Tokotrienol mampu mencegah perkembangan perubahan dinding vaskuler yang terjadi pada DM.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s