EOSIN, ZAT WARNA PENTING DALAM HISTOLOGI

Eosin ialah zat warna merah fluorescent yang dihasilkan dari aksi brom pada fluorescein. Eosin dapat digunakan untuk mewarnai sitoplasma, kolagen dan serat otot untuk pengujian di bawah mikroskop. Struktur  yang  mudah diwarnai dengan eosin disebut eosinofil.

Secara etimologi nama eosin berasal dari Eos, kata Junani kuno untuk ‘fajar’ dan nama Dewi Junani Kuno fajar.

Varian

Sebenarnya ada dua senyawa yang sangat erat kaitannya secara umum yang mengacu pada eosin. Yang paling sering digunakan ialah Eosin Y (juga dikenal sebagai eosin Y ws, eosin yellowish, eosin kekuningan,  Acid Red 87, C.I. 45380, bromoeosine, bromofluoresceic acid, D&C Red No. 22); senyawa ini memiliki warna kekuningan sangat sedikit. Senyawa eosin lain ialah eosin B (eosin kebiruan, Acid Red 91, C.I. 45400, Saffrosine, Eosin Scarlet, atau imperial red); memiliki warna kebiruan sangat samar. Dua pewarna yang dipertukarkan, dan penggunaan yang satu atau yang lainnya adalah masalah preferensi dan tradisi.

Eosin Y ialah tetrabromo turunan dari fluorescein. Eosin B ialah suatu dibromo dinitro turunan dari fluorescein.

Penggunaan dalam Histologi

 

Sampel dari trakea yang diwarnai dengan hematoksilin dan eosin. Eosin paling sering digunakan sebagai lawan warna untuk hematoksilin dalam pewarnaan H & E (hematoksilin dan Eosin). Pewarnaan H&E merupakan salah satu teknik yang paling umum digunakan dalam histologi. Jaringan yang diwarnai dengan hematoksilin dan eosin menunjukkan sitiplasma berwarna merah jambu-jingga dan nukleus berwarna gelap, biru atau ungu.

Eosin juga mewarnai sel-sel darah merah dengan warna merah yang intens. Eosin ialah zat warna asam dan muncul di bagian dasar sel, yaitu sitoplasma. Hematoksilin bagaimanapun  adalah pewarna dasar dan muncul di bagian yang asam dari sel seperti nukleus, di mana asam nukleat (DNA dan RNA) terpekatkan.

Untuk mewarnai, eosin Y secara khas digunakan dalam konsentrasi 1 sampai 5 % berat berdasarkan volume, yang dilarutkan dalam air atau etanol. Untuk pencegahan pertumbuhan jamur dalam larutan encer, terkadang timol ditambahkan. Konsentrasi kecil (0,5 %) asam asetat biasanya memberikan warna merah lebih dalam pada jaringan.

Eosin terdaftar sebagai karsinogen IARC kelas-3, jadi hati kalau bekerja dengan zat ini.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s