KANTARIDIN & KUMBANG LEPUH, HATI-HATILAH!

 

SUATU zat kimia dari jenis terpenoid yang disekresikan oleh sejenis kumbang, yang bernama kumbang lepuh. Senyawa kimia organik ini sangat beracun, namanya kantaridin. Kantaridin juga disekresikan oleh lalat Spanyol, Lytta vesicatoria. Kumbang lepuh merupakan salah satu kumbang kardinal juga mengandung senyawa racun ini.

Nama IUPAC senyawa ini ialah 2,6-Dimetil-4,10-dioksatrisiklo[5.2.1.02,6]dekana-3,5-dion. Nama lainnya yaitu Kantaridin. Senyawa ini memiliki rumus molekul C10H12O4 dengan berat molekul 196,20 gr/mol, dengan densitas 1,41 gr/cm3 .

SEJARAH PENEMUAN

Kantaridin pertama kali diisolasi pada tahun 1810 oleh Pierre Robiquet, seorang kimiawan Prancis yang kemudian hidup di Paris. Senyawa ini diisolasi dari Lytta vesicatoria, sejenis lalat Spanyol yang disebutkan di atas. Robiquet menunjukkan bahwa kantaridin adalah dasar yang sebenarnya yang bertanggung-jawab atas sifat-sifat melepuhkan yang agresif dari lapisan telur serangga/kumbang itu, dan menetapkan bahwa kantaridin berisfat racun sangat terbatas dan sifat-sifat keracunan dapat dibandingkan dengan tingkat racun paling dahsyat yang diketahui pada abad-19, seperti Strychnine. Zat padat ini tidak berbau dan tak berwarna pada suhu kamar. Senyawa ini disekresikan oleh kumbang lepuh jantan dan diberikan kepada betinanya selama kawin. Setelah itu kumbang betina akan menutupi telur-telurnya dengan kantaridin sebagai pertahanan untuk melawan predator. Mahasuci Allah yang telah memberikan petunjuk kepada kumbang itu untuk mempertahankan kelanjutan keturunannya. Meskipun demikian, mekanisme lengkap dari biosintesis senyawa ini hingga kini belum diketahui.

ADAKAH KEGUNAAN UNTUK MEDIS?

Larutan encer dari Kantaridin dapat digunakan sebagai obat topikal untuk menghilangkan kutil dan tato dan untuk mengobati papules kecil dari Molluscum contagiosum.

Resiko bagi manusia

Karena berpotensi terhadap efek sebaliknya terhadap kesehatan manusia menyebabkan kantaridin dimasukkan dalam daftar „obat-obatan bermasalah“ yang digunakan oleh ahli kulit (dermatologis).

Kantaridin, jika tertelan oleh manusia, LD50-nya hanya sekitar 0,5 mg/kg, dengan satu dosis sekecil-kecilnya 10 mg berpotensi fatal.  Kantaridin yang tertelan mula dapat menyebabkan kerusakan yang parah pada jalur saluran pencernaan dan saluran urin, dan bisa juga menyebabkan kerusakan ginjal yang permanen. Gejala-gejala keracunan kantaridin meliputi hematuria, sakit perut, dan jarang terjadi priapisme.

Kadar kantaridin pada kumbang lepuh dapat berbeda-beda. Di antara kumbang lepuh genus Epicauta di Colorado, E.pennsylvanica mengandung hampir 0,2 mg, E. maculata mengandung 0,7 mg, dan E. immaculata mengandung 4,8 mg per kumbang; kumbang jantan juga mengandung dengan kadar yang lebih tinggi dibandingkan kumbang betina.

Toksisitas yang ekstrim dari Kantaridin membuat setiap penggunaan sebagai perangsang nafsu birahi sangat berbahay karena dapat menyebabkan kematian dengan mudah. Jadi, ini tidak boleh diperjual-belikan (atau menggunakan) kantaridin untuk tujuan ini di banyak negara.

Resiko untuk hewan

Kuda sangat sensitif terhadap Kantaridin. LD50 untuk kuda sekitar 1 mg/kg berat badan kuda. Kuda mungkin saja teracuni oleh zat ini secara kebetulan ketika diberi makan dari karung dengan kumbang lepuh berada di dalamnya.

PENELITIAN

Beberapa uji laboratorium telah dilakukan terhadap sel tumor yang dikulturkan yang membuktikan bahwa analog-analog kantaridin pun dapat memiliki aktivitas anti-kanker dengan menghentikan suatu enzim, protein fosfatase 2A.

Pengobatan topikal dengan kantaridin tampaknya memiliki efek terhadap hewan model dengan cutaneous leishmaniasis.

Jadi… hati-hatilah dengan kumbang lepuh karena ada racun kantaridin.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s