Minyak Biji Candu, Banyak Gunanya dan Tidak Memiliki Sifat Narkotika

Minyak biji candu (juga minyak biji poppy, minyak poppy, dan oleum papaveris seminis) adalah minyak makan dari biji candu (biji dari Papaver somniferum, opium candu). Minyak ini memiliki kegunaan dalam kuliner (masakan) dan farmasetikal, serta dalam pembuatan cat, pernis, dan sabun.

Biji candu menghasilkan 45–50% minyak. Layaknya biji candu, minyak biji candu adalah sangat lezat, kaya akan vitamin E, dan tidak memiliki sifat narkotika.

NILAI GIZI

Dalam tabel di bawah ini dicantumkan nilai gizi minyak biji candu per 100 gr (3,5 oz), sbb:

Energi :            3.699 kJ (884 kcal)

Lemak:            100 gr

Jenuh:              13,5 gr

Tak jenuh tunggal:      19,7 gr

Tak jenuh ganda:         62,4 gr

Vitamin E:                   11,4 mg (76%)

Fitosterol:                    276 mg

 

Persentase relative terhadap rekomendasi AS untuk orang dewasa (USDA Nutrient Database).

KIMIA

Biji candu terkenal karena kekhasannya yang tinggi akan tokoferol selain vitamin E (α-tokoferol). Minyak biji candu dari satu sumber telah dilaporkan mengandung 30,9 mg γ-tokoferol per 100 gr. Minyak ini juga mengandung alfa dan gamma-tokoferol, tetapi tidak yang lain. Dibandingkan dengan minyak nabati lain, minyak biji candu memiliki jumlah fitosterol sedang; memang lebih tinggi dibandingkan minyak kedelai dan minyak kacang tanah, namun lebih rendah dari minyak safflower, minyak wijen, minyak biji gandum, minyak jagung, dan minyak dedak padi.

Sterol dalam minyak biji candu terdiri hampir seluruhnya dari kampesterol, stigmasterol, sitosterol dan delta 5-avenasterol. Minyak biji candu tinggi akan asam linoleat, asam lemak omega-6. Meskipun secara umum tidak lebih tinggi dari minyak safflower, namun dapat setinggi-tingginya 74,5%. Trigriserida lain yang terdapat dalam kuantitas utama adalah asam oleat dan asam palmitat.

Hal ini tidak mungkin dibandingkan beberapa minyak lain untuk menjadi tengik. Minyak ini lebih stabil ketimbang minyak safflower dan minyak biji rami.

Minyak biji candu ialah minyak pembawa, yang memiliki sedikit atau tanpa bau dan rasa yang tidak menyenangkan. Senyawa aroma utama yang bertanggung-jawab atas cita-rasanya ialah 2-pentilfuran; juga terdapat senyawa-senyawa volatile seperti 1-pentanol, 1-heksanal, 1-heksanol, dan asam kaproat.

KEGUNAAN

Pada abad ke-19 minyak biji candu digunakan sebagai minyak memasak, minyak lampu, dan pernis, dan juga digunakan untuk membuat cat dan sabun. Kini, semua itu berlanjut, dan minyak biji candu ini telah ditambahkan dalam masakan dan digunakan untuk farmasi. Yang paling terkenal ialah kegunaannya sebagai pembawa (carries) untuk cat minyak dan sebagai pembawa pharmaceutical grade untuk medicinal iodine dan obat-obatan lain. Minyak biji candu terkadang ditambahkan ke dalam minyak zaitun dan minyak almond. Di Negara-negara industri kegunaannya yang paling penting adalah untuk kuliner sebagai minyak salad dan minyak celup.

Cat Minyak

Minyak biji candu ialah suatu minyak pengering. Dalam cat minyak, minyak ini adalah minyak yang popular untuk mengikat pigmen, pengencer cat, dan pernis pengecatan akhir. Beberapa pemakai menganggap minyak biji candu “dikentalkan-surya” sebagai media pengecatan terbaik.

Minyak biji candu digunakan untuk pengecatan setidaknya selama 1500 tahun—salah satu lukisan minyak tertua, ditemukan di gua-gua Afghanistan dan bertanggal AD 650, kemungkinan besar menggunakan minyak biji candu.

Minyak ini paling sering ditemukan dalam cat putih, dan sebagai pernis. Pelukis cenderung untuk mempersiapkan minyak biji candu dengan tangan, sejak akhir abad 19 ketika minyak menjadi tersedia yang disiapkan dalam tabung. Sementara minyak biji candu tidak meninggalkan noda kuning yang tidak diinginkan untuk mana minyak biji rami diketahui, mengering lebih lambat dan tidak tahan lama.

Bahan pengontras

Minyak biji candum beriodium (minyak yang ditambahkan iodium) memiliki beberapa macam penggunaan farmasi. Yang pertama dari pemanfaatan ini adalah sebagai bahan radiocontrast digunakan dalam radiologi medis. Asal usul penggunaan ini dikaitkan dengan Jean-Jacques Athanase Sicard dan Forestier. Dua nama merek formulasi yaitu ethiodol dan lipiodol. Ini adalah formulasi steril untuk penggunaan medis yang umumnya disuntikkan.
Kedua formulasi ini, dan minyak biji candu beriodium serupa lainnya, juga memiliki beberapa aplikasi dalam pengobatan kanker dan kekurangan iodium.

Pencegahan Defisiensi Iodium

Di beberapa daerah dimana garam beriodium tidak tersedia, minyak biji candu beriodium adalah standar untuk mencegah defisiensi iodium dan komplikasinya termasuk penyakit gondok. Minyak beriodium ini dapat diberikan melalui mulut atau melalui injeksi, It may be given by mouth or by injection, injeksi yang nyata lebih efektif.  Asal usul penggunaan ini disebabkan Paulo Campos.

Biasanya minyak ini diberikan pada orang dewasa dan anak-anak melalui injeksi intramuscular, satu injeksi menghantarkan cukup iodium sampai 2 atau 3 tahun. Minyak biji candu digunakan karena ia mudah dibuat dan sangat jarang  menyebabkan reaksi alergi. Namun, injeksi lebih mahal dan lebih sulit untuk memberikan dibandingkan pengobatan melalui mulut, dengan demikian lebih suka memberikan minyak beriodium itu melalui mulut. Menggunaan melalui hanya memerlukan control mutu food grade, tidak  medical grade.

Sebuah uji klinik acak, terkontrol-plasebo pada pemberian minyak biji candu beriodium untuk bayi bersama dengan faksin polio-oral yang memberikan hasil baik. Uji acak, double-blind, terkontrol sepenuhnya dalam mana lipiodol diberikan melalui mulut kepada anak-anak malah hasilnya mengecewakan. Uji klinik terbaru dalam mana minyak beriodium diberikan melalui mulut menemukan bahwa jumlah iondium yang diasup berbeda-beda dengan jumlah asam oleat dalam minyak. Minyak biji candu memiliki asam oleat jauh lebih banyak dan tidak mahal, dan bisa lebih baik dibanding minyak biji candu untuk memberikan iodium melalui mulut.

Terapi Kanker

Minyak biji candu telah lama digunakan sebagai pembawa untuk zat emboli untuk mengobati tumor. Pada 1980-an, dalam rangka untuk lebih memahami tindakan zat ini, minyak biji candu diganti dengan lipiodol, meng-gunakan sifat-sifatnya sebagai agen kontras. Segera menjadi jelas bahwa lipiodol itu selektif diambil oleh tumor. Apakah tidak diketahui.

Minyak biji candu beriodium terutama memiliki kecepatan yang tinggi diasup ke dalam sel karsinoma hepatoselular (HCC). Sifat ini dengan segera disetujui sebagai kesempatan untuk menghantar HCC berbagai agen kemoterapi dan radioterapi sangat beracun,  dan merupakan dasar dari beberapa terapi untuk HCC yang tidak dapat diobati dengan pembedahan saja. Emulsi epirubicin dalam lipiodol populer disuntikkan, tapi stabilitas yang lebih besar dibutuhkan.

Lipiodol sedang diselidiki sebagai adjuvant dan pembawa untuk digunakan dalam kemoterapi untuk mengobati karsinoma hepatoseluler (HCC). Hal ini meningkatkan penyerapan dan karenanya sitotoksisitas doxorubicin dalam sel HCC [22] (dan juga dalam sel hepatoblastoma). Sebagai pembawa, ini sedang diselidiki dalam hubungannya dengan senyawa lipofilik dari platinum, dan dalam hubungannya dengan turunan kompleks neocarzinostatin. Hal ini juga sedang diselidiki sebagai terapi radiasi terhadap karsinoma hepatoseluler, dengan menjadi sarat dengan sebuah isotop iodium, iodium-131.

Demikian pula, lipiodol telah digunakan dengan epirubicin agen kemoterapi, tetapi kurang sukses dibandingkan dengan doxorubicin. Epirubicin kurang lipofilik ketimbang doxorubicin. Namun, mikroemulsi “air/minyak/air” , di mana epirubicin terlarut dalam tetesan air, dan tetesan terhenti pada lipiodol, tidak secara signifikan meningkatkan penyerapan epirubicin oleh sel HCC.

Lipiodol sering digunakan dalam embolisasi transarterial (TAE), pengobatan untuk HCC, dengan dan tanpa agen kemoterapi tambahan. Peninjauan sistematis kohort dan penelitian secara acak menemukan bahwa TAE meningkatkan kelangsungan hidup, tetapi tidak menemukan bukti manfaat tambahan untuk baik menggunakan agen kemoterapi atau lipiodol di TAE.

Sejarah

Manual industri awal abad ke-20 menyatakan bahwa sementara Candu opium ditanam secara luas di Eurasia, sebagian besar produksi minyak dunia dari biji candu yang terjadi di Perancis dan Jerman, diimpor dari negara lain. Dari tahun 1900 hingga 1911, Perancis dan Jerman bersama-sama memproduksi pada tingkat 60.000.000 kilogram per tahun.

Pada saat itu, minyak biji candu digunakan terutama untuk mendandani salad dan ini seringkali dicampur dengan minyak wijen dan minyak kemiri untuk meningkatkan rasa minyak dari biji (tengik) yang disimpan. Minyak biji candu digunakan untuk memalsukan minyak zaitun dan minyak inti persik. Minyak biji candu yang bermutu buruk bernilai dalam industry sabun.

Beberapa penggunaan farmasi dari produk utama lain dari Papaver somniferum, opium, diakui ribuan tahun yang lalu. Sebaliknya, penggunaan farmasi minyak biji candu dimulai pada abad ke-20. Minyak biji candu beriodium adalah pokok bahasan dari sebuah artikel 1959 dalam jurnal penelitian farmasi. Berbagai formulasi diauji. Pada tahun 1976 agen kontras untuk pencitraan hati dan limpa menggunakan tomografi komputasi telah diusulkan: AG 60.99, emulsi minyak biji candu.

Sebuah laporan tahun 1979 artikel tentang formulasi baru, “disempurnakan” atas ethiodol:. “Emulsi trigliserida dari iodisasi minyak biji candu”  Setelah serangkaian percobaan pada hewan, pada tahun 1981 minyak biji candu beriodium telah digunakan sebagai agen pengontras untuk komputasi tomografi pada manusia. Kira-kira beginilah gambaran dari minyak biji candu, yang ternyata luas juga kegunaannya dan, yang penting aman.***

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s